Opening Fashion Show JFFF 2017 oleh 4 Desainer

JFFF kembali menggelar event tahunannya yang kini memasuki kali ke-14. Fashion festival yang menjadi salah satu mata acara utama dari serangkaian acara yang terdiri dari fashion village, food festival, wine and cheese selalu menjadi magnet bagi kalangan pecinta fashion yang ingin mengetahui tren fashion terkini. Pada malam tanggal 18 April 2017, fashion festival resmi dibuka dengan sederet koleksi sejumlah desainer serta pengumuman pemenang Gading Model Search dan Next Young Promising Designers.

Soegianto Nagaria selaku Chairman JFFF memberikan sambutan pada malam itu yang diikuti dengan sejumlah petinggi instansi pemerintahan yang menyambut fashion festival dengan rasa bangga pada eksistensi JFFF yang tidak pernah putus. Seusai kata sambutan dan pengumuman pemenang dua kompetisi tersebut, opening fashion show pun resmi digelar yang berjudul “Trendology”.

Diiringi live DJ satu persatu koleksi busana ready to wear rancangan Natalia Kiantoro hadir memukau. Bertajuk “State of Mind”, Natalia menumpahkan pengalaman emosionalnya yang didapat bukan hanya berdasarkan yang kasat mata. Justru koleksi yang diberi label dengan namanya sendiri, Natalia Kiantoro, merupakan ungkapan dari yang tak kasat mata yang terinspirasi dari ide gerakan seni ekspresionisme yang berunsur perpaduan antara feminitas dan maskulinitas. Selanjutnya Purana by Nonita Respati mencuri perhatian dengan mengetengahkan koleksi yang terisnpirasi oleh flora gurun pasir dan warna-warna hasil goresan sederhana lukisan suku Aborigin yang terdapat di Gua Uluru bagian utara Australia. Easy-wear kimono, outer wear, wide pants, sizeable shirt serta sejumlah all-size dress basic yang dipadu dengan gaya edgy merupakan item fashion dari koleksi Purana Fall/Winter 2017.

“Kozmic” yang bermakna jiwa yang kreatif, versatile, original dan independen terintegritas dalam busana ready to wear rancangan Opi Bachtiar. Deretan setelan hingga terusan disempurnakan dengan permainan volume, loose shape, handkerchief cutting dengan material bahan berupa catton print, linen catton yang ringan dibanding wooly crepe dan wool. Nuansa tradisional pun tercipta dari bahan tenun ulos sibolang. Barli Asmara pun tidak mau ketinggalan menjunjung kain tradisional yang kali ini mengangkat kain batik dan songket jambi. Menariknya perpaduan desain modern dan edgy dipermanis dengan payet dan bordir.

Oleh: MERY DESIANTI

Foto: Vaesy